Ask Google

Custom Search

Saat Kata Tak Ada Artinya

Written on 1/11/2008 01:08:00 PM by Indah Puspita Rani




Hari ini, aku terima sebuah email dari milis pengajian. Biasanya, sekali baca, ya sudah.. lewat begitu saja. Tapi khusus yang satu ini, aku terketuk.

Email itu tentang sebuah lagu, ya lagu yang biasa. Tidak begitu spektakuler seperti halnya lagu2 yang sedang populer saat ini. Tapi lirik lagu itu, yang dipadupadankan dengan alunan musik yang menurunkan frekuensi, yahh.. cukup menggugah.

Mengingatkan saat aku kira2 SMA, saat mengikuti sebuah renungan keagamaan, yang cukup merubah cara pandang tentang ketuhananku. Bahwa yang melakukan komunikasi dengan Tuhanmu, ya hatimu sendiri. Dia memang tak pernah terlihat, kau juga tidak pernah bertemu Rasulmu, tapi di lubuk hatimu ada rasa rindu yang sudah tertanam sekian lama, sejak kau lahir dan menyatakan keIslamanmu.

Lagi2, lagu ini mengingatkan kita tentang hari akhir. Hari dimana kita diadili, oleh Allah, untuk semua kebaikan dan kejahatan yang sudah kita lakukan.

Kenapa? Kenapa kita tergugah saat mengingat mati?
Karena kita terlalu banyak dosa daripada pahala? dan Takut akan neraka, yang diceritakan begitu menakutkan? Ya saya yakin neraka itu mengerikan, walau saya tak pernah melihatnya bahkan sekedar mendengar cerita orang yang pernah kesana, tidak pernah!

Kita tergugah, karena takut neraka? merasa bersalah? atau merasa mencintai Allah, sehingga sedih karena menyakitinya?

Aku tergugah, mungkin belakangan merasa cukup jauh dengan Allah. Sudah jarang ngaji nih, solat juga bolong kadang gak konsen dengan bacaan sendiri. Walau sebenernya ibadah tidak hanya itu saja, tapi yang wajib pun aku masih keteteran. Berharap yang kecil2 bisa membantu? Rasanya terlalu tidak tahu diri. ~.~

Ya Allah, makasih masih diingatkan.

Dan sekarang pun aku ketakutan.


Ketika tangan dan kaki yang mengambil alih,
Dan mulut sudah tak bisa bersilat lagi,
Aku berharap hati ini sudah tergetar dengan ayat2 cintaMu. Amin.

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina
1997

Surat Untuk Sahabat

Written on 1/05/2008 07:24:00 PM by Indah Puspita Rani

Hai Sahabat,

Apa kabar?
Seperti biasa aku disini baik-baik saja. Jantung masih berdetak dengan baik, walau kadang berdetak kencang saat galau.

Yahh.. begitulah sahabat, Aku masih galau. Bukan.. Bukan tentang cinta lagi, aku tau sekarang bukan saatnya bicara tentang cinta.

Aku masih galau dengan hidup ini, masa depan, orang2 yang aku sayang dan masih banyak lagi.

Oiya Sahabat, maaf yaa.. dulu aku seakan lupa akanmu. Padahal, ya sahabat benar.. kau adalah orang yang aku sayang. Ya benar. Bukannya aku baru sadar kalo aku menyayangimu, tapi dulu aku merasa aku bisa hidup tanpamu. Aku bisa tetap menjalani hidup tanpamu. Tanpa perhatian kecilmu. Tanpa teriakan bisingmu yang kadang mengganggu. Yahh.. bukan berarti aku akan mati kalo kau mati, aku tidak sebegitu bodohnya, tapi mungkin hati ini yang mati, mati karena perubahan yang pasti ada. Dan tak pernah ada kata siap untuk perubahan dari hasil proses kehilangan. Dan aku sadar, kehilanganmu sama saja kehilangan tempat aku bersandar disaat aku ingin tertawa, atau hanya sekedar kesal dengan kenyataan.

Ahh...

Kau tau, aku menulis surat ini hanya karena aku rindu padamu.

Jujur tak ada juntaian kata yang penting yang bisa kutulis.

Sahabat,
Aku mungkin hanya bisa mengisi sedikit relung hidupmu,
Bahkan mungkin hanya penonton dari drama kehidupanmu.

Tapi kau tau?
Sedikit kehadiran itu,
Bila tak ada, bagai merpati tak bersayap.
Tak bisa sampaikan pesan hidupnya, karena terbang pun ia terjatuh.

Sahabat, terimakasih ntuk menemani aku terbang.