Ask Google

Custom Search

Q for us : "What don't you know and how you learn it?"

Written on 10/26/2008 12:20:00 PM by Indah Puspita Rani

Nice Question at the edge of Second Presidential Debate of United States. 
It's quite interesting that the question is not asking about financial crisis, nor war, nor healthcare, nor tax and any other stuffs, that always been pointed out in debate.

This question, I think a question for all?

Easy question, but till this entry posted, I am still not sure about the answer yet. (mine)

Take a look!

------


BROKAW: All right, gentlemen, we've come to the last question.

And you'll both be interested to know this comes from the Internet and it's from a state that you're strongly contesting, both of you. It's from Peggy (ph) in Amherst, New Hampshire. And it has a certain Zen-like quality, I'll give you a fair warning.

She says, "What don't you know and how will you learn it?"

(LAUGHTER)

Senator Obama, you get first crack at that.

OBAMA: My wife, Michelle, is there and she could give you a much longer list than I do. And most of the time, I learn it by asking her.

But, look, the nature of the challenges that we're going to face are immense and one of the things that we know about the presidency is that it's never the challenges that you expect. It's the challenges that you don't that end up consuming most of your time.

But here's what I do know. I know that I wouldn't be standing here if it weren't for the fact that this country gave me opportunity. I came from very modest means. I had a single mom and my grandparents raised me and it was because of the help of scholarships and my grandmother scrimping on things that she might have wanted to purchase and my mom, at one point, getting food stamps in order for us to put food on the table.

Despite all that, I was able to go to the best schools on earth and I was able to succeed in a way that I could not have succeeded anywhere else in this country.

The same is true for Michelle and I'm sure the same is true for a lot of you.

And the question in this election is: are we going to pass on that same American dream to the next generation? Over the last eight years, we've seen that dream diminish.

Wages and incomes have gone down. People have lost their health care or are going bankrupt because they get sick. We've got young people who have got the grades and the will and the drive to go to college, but they just don't have the money.

And we can't expect that if we do the same things that we've been doing over the last eight years, that somehow we are going to have a different outcome.

We need fundamental change. That's what's at stake in this election. That's the reason I decided to run for president, and I'm hopeful that all of you are prepared to continue this extraordinary journey that we call America.

But we're going to have to have the courage and the sacrifice, the nerve to move in a new direction.

Thank you. 

BROKAW: Senator McCain, you get the last word. Senator Obama had the opening. You're last up.

MCCAIN: Well, thank you, Tom. And I think what I don't know is what all of us don't know, and that's what's going to happen both here at home and abroad.

The challenges that we face are unprecedented. Americans are hurting tonight in a way they have not in our generation.

There are challenges around the world that are new and different and there will be different -- we will be talking about countries sometime in the future that we hardly know where they are on the map, some Americans.

So what I don't know is what the unexpected will be. But I have spent my whole life serving this country. I grew up in a family where my father was gone most of the time because he was at sea and doing our country's business. My mother basically raised our family.

I know what it's like in dark times. I know what it's like to have to fight to keep one's hope going through difficult times. I know what it's like to rely on others for support and courage and love in tough times.

I know what it's like to have your comrades reach out to you and your neighbors and your fellow citizens and pick you up and put you back in the fight.

That's what America's all about. I believe in this country. I believe in its future. I believe in its greatness. It's been my great honor to serve it for many, many years.

And I'm asking the American people to give me another opportunity and I'll rest on my record, but I'll also tell you, when times are tough, we need a steady hand at the tiller and the great honor of my life was to always put my country first.

Thank you, Tom.

----

Let's not talk about them, the president to be, it's not my country anyway. :p

About the question : What you don't know and how will you learn it?

There're so much things that I don't know. 

I don't know the future is one thing for sure. I don't know what to react the future is another thing. I don't know is bad in this life is really bad and vice versa, good is really good. I don't know how is the good regret. I don't know what people are thinking or even what they think about me. I don't know who loves me as I do love him/her. I don't know who hates me. I don't know ANYTHING.  (the list would be long as i keep writing. haha)

Arrgggghh.. $)&#&&*$^&^#$& 

What I don't know? I can't even answer the first question how can I elaborate it, how I will learn about it?

WHAT ABOUT YOU?? MAYBE YOU KNOW.. 

Cewek2 Jaman Sekarang Banyak Maunya

Written on 10/21/2008 01:46:00 PM by Indah Puspita Rani

Didasari dari hasil chatting gw sama sepupu gw, yang berbeda satu generasi. (yang satu udah nikah, udah punya anak, yang satu lagi belum, lulus kuliah aja belom jelas. :p well we're just 6 years apart ;p actually)

"Ien lagi sibuk Exam, huhuhu stress!"

"Hehe jadi bersyukur udah lulus kuliah dan gak perlu stress2 mo ujian lagi. "
"Tapi sekrang sibuknya ngurusin keluarga, hehehe"


"Iyaa.. pengen cepet2 lulus kuliah tapi gak cepet2 nikah."
"Tapi gak lama2 banget juga gak nikahnya, ntar keburu tua."

"Dasar cewek2 jaman sekarang banyak maunya!"
"Maunya sih nikah, tapi tetep clubbing juga, tetep keluar malem juga, tetep maen2 ama temen2 juga."

"Hahaha.. gak bisa ya?!"
"Eh ien, ditinggal dulu ya, panggilan tugas ibu memanggil"

Imajinasi itu akhirnya terbang begitu saja. =)

------


Cewek2 sekarang emang banyak maunya.

Mari posisikan jiwa kita di jaman orang tua dulu. Let say 30 tahun yang lalu. Di tahun 1978, setahu gw, masih banyak cewek yang terobsesi dengan pernikahan.

Terobsesi maksd gw, mereka ingin menikah, dan setelah menikah jalan mereka jelas.
Ya jelas, sesuai suami yang mereka dapet. Kalo suaminya kebetulan berhasil, begitu juga dia, ikut berhasil, ikutan arisan disana sini, sebagai Ibu Anu, istrinya Pak Anu. Kemana2 membawa nama Anu.

Wanita2 itu sekolah lho, dijaman 70an, pendidikan sudah sampai ke perempuan. Thank's to Ibu Kartini. Tapi sebagian besar dari perempuan pada masa itu, masih menempatkan masa depan pada calon suami. Masa depan ya tergantung suami macam apa yang didapat.
Mungkin ya, kalo gw hidup dimasa itu, gw bakal bilang :
"Gak penting kamu sekolah dimana mbakyu, yang penting pacar kamu, yang mau kamu nikahi itu, kuliah dimana? Calon orang kaya atau bukan? Kalau suami kamu pinter, anaknya juga nanti pinter, kalo anaknya pinter, bisa jadi orang kaya juga nantinya, jadinya hidup mbakyu sampai tua enak.."

Pathetic? Gak juga.
Itu fenomena yang pasti terjadi, jaman2 transisi untuk perempuan, dari belenggu ke kebebasan. *Sedangkang kebebasan buat perempuan sampai saat ini masih saja dikungkung secara terselubung* Dan kalo gw hidup dimasa itu, gw pun gak bisa seenaknya keluar dari zona itu, zona aman karena suami. To be honest, untuk beberapa tahun di masa2 belia gw, gw pernah berdiri di zona itu, mencari laki2 yang calon kaya, supaya hidup gw enak, gak perlu kerja, engkang2 kaki dirumah aja, arisan sana sini, belanja abisin duit suami. Whuaaa What a life!! Enak banget!


Mari kembali ke waktu kita, 2008. =)
Cewek2 jaman sekrang udah kuliah tinggi2. Ada yang jadi dokter, ada yang jadi engineer, ada yang jadi scientist juga. Posisi mereka juga ga kalah sama laki2, gw tau satu kakak kelas gw yang selalu jadi no.1 angkatan setiap tahun, dan dia calon dokter perempuan.
Kami tidak lagi mengejar mimpi melalui laki2. Kami mengejar mimpi pakai kaki sendiri. Kami itu punya cita2. Cita2 yang kami kejar, kami juga pengen punya karir, tinggi sama tingginya dengan laki2. Kami gak mau kalah dengan laki, intinya itu. Kami tidak mau tergantung dengan laki2.

Emansipasi wanita.
Butuh waktu lama untuk akhirnya bisa benar2 terjadi. Dari era Ibu kartini, 1879-1904, sampai akhirnya sekrang tahun 2008, emansipasi wanita baru benar2 terasa. Walau kadang gw masih bisa aja ketemu sama orang2 yang berpendapat, laki harus selalu ada di atas wanita. Wanita harus selalu nurut dengan laki2, dan sebagainya.

Wajar butuh waktu lama, karena yang diubah itu bukan saja aturan2 hidup yang akhirnya membiarkan perempuan untuk bisa belajar, tapi juga harus mengubah cara pikir perempuan2, bahwa kita lahir tidak hanya untuk menempatkan kaki diatas kaki suami, dan menghentikan mimpi disaat ijab kabul terucapkan.


Point pertama :

Sayang banget kalo mimpi2 perempuan2 itu harus terhenti hanya karena : MENIKAH!

Setelah menikah, gw akan punya keluarga.

Gw, suatu saat nanti pasti akan mengabdi sama suami gw. Itu pasti. Suami adalah nahkoda dalam keluarga, dia yag meng-drive keluarga, tapi bukan gw. Gw juga punya posisi kuat di keluarga itu, gw itu wakil dari nahkoda, di saat nahkoda berhalangan, gw yang maju. Ato gini deh, anggaplah gw VP dari keluarga ini dimana suami gw adalah Presidentnya. Untuk punya organisasi yang kuat, harusnya President ngerti, bahwa pendapat VP harus didengarkan, keputusan itu diambil dari hasil meeting yang di pimpin sama President alias suami. In a short word, menikah itu kompromi. Masing2 punya impian masing2, masing2 punya tujuan masing2, dalam kompromi, tidak ada yang menang atau kalah, tapi 22nya mengerti apapun yang menjadi hasil keputusan adalah untuk memenuhi keinginan masing2 tanpa harus mengorbankan kepentingan bersama.


Menikah bukan berarti istri gak bisa bekerja, kejar karir, ato sekolah lagi.
Gw pernah mendengar satu suara dari laki2. Dia bilang urusan keluarga itu dibagi 2.
To be honest, my dear man, nice thinking!.
Istri punya tugas, tapi laki2 juga punya tugas.
Jaman sekarang tidak hanya laki2 yang mencari nafkah, tugas itu dibantu sama istri. Mengurus anak bukan semata2 tugas istri di keluarga. Suami tugasnya apa kalo bukan juga ngurus anak2? Apa hanya karena anak yang dibikin berdua, hanya cita2 istri yang terpacung?



Point kedua:
Emansipasi wanita.
Girls, we need to be fair.

Emansipasi wanita, bukan berarti penyamarataan besar2an. Hak untuk laki2 dan perempuan, kita bagi dua, tapi sesuaikan juga dengan kewajiban.
Jujur gw suka gatel kalo ngeliat ada cewek yang manjanya berlebihan sama laki2. Minta tolong untuk ngangkat barang2 yang berat misalnya.

Girls, see surrounding first ya kalo mo minta tolong.

Coba bayangkan, kalo ternyata kita tergabung dalam satu committe, yang kebetulan orangnya gak banyak, dan harus ngangkat2, minimal kita bertanggung jawab untuk barang2 kita sendiri. Apapun itu bentuknya, barang2 pribadi seharusnya bisa kita bawa sendiri, barang pribadi apa sih yang berat? apa iya kita bawa kulkas kemana2? nggak kan?

Gw itu perempuan, gw tau kemampuan perempuan dalam hal tenaga jelas berbeda dengan laki2. Itu namanya anugerah dari Allah buat laki2. Entah badan sekecil apa, buat laki2 ngangkat sekarung beras yang beratnya ratusan kilo. Gak pa pa. Mereka gak tepar! Tapi buat perempuan, itu maha berat sekali saudara2. Bukan berarti gak bisa, hanya saja kalo kerjaan itu dikasih ke perempuan bakal jadi gak efektif, kami bisa melakukannya tapi waktunya bakal lama banget. Tapi disaat tidak ada manpower lagi, masa' iya kita diem aja Girls?

Gw suka panas, kalo ada laki2 yang nyolot bilang :
Cewek2 itu maunya aja emansipasi wanita. Disamaratakan dalam semua hal, tapi kalo disuruh yang berat2 udah langsung bilang "Kamu kan laki2 masa' iya cewek sih yang ngelakuin begituan!". Coba disiruh masak ato nyuci baju dijawab lagi : "Sekarang itu jamannya emansipasi wanita mas, kerjaan rumah tangga, udah harus dibagi rata, kemaren aku udah masak, hari ini kamu yang masak." Ato kalo cewek jadi ketua kelas misalnya: "Sekarang emansipasi wanita, posisi ketua sudah bisa dipegang sama wanita!" Emansipasi kok pilih2, giliran yang enak aja dibilang emansipasi wanita, gilaran yang susah yang susah2, dikasih ke laki2!.

Gw mencoba mengajak perempuan2 berpikir.
Kok gw ngerasa ada benarnya ya?
Masih banyak perempuan2 di masa sekarang, yang suka pilih2 kalo masalah emansipasi. Giliran yang susah2 dan berat2 bakal dikasih ke laki2. Tapi yang enak2 maunya dikuasi sendiri. Kok egois sekali kita?

Mungkin sekarang sudah saatnya kita mulai men-laki2-kan diri kita. Dan laki2 mulai men-perempuan-kan diri mereka.

Haha.. Maksud gw, sebagai perempuan kita harusnya lebih mandiri, dan sebagai laki2 harusnya mulai memperdayakan perasaan. Tapi tentunya tetap dalam batas kodrat kita lah ya..



Point Ketiga:

Jangan Maksa, Kita itu masih punya kodrat.

Emansipasi wanita itu ya, bukan hanya sekedar karena sekarang wanita bisa jadi supir bis, wanita bisa jadi tukang ojek dan lain sebagainya.

Tapi dimana kita bisa menempatkan diri, dimana biasanya hanya laki2 saja disana. Dimana anggapan laki2 saja yang bisa jadi ketua, dan hanya laki2 saja yang bisa mempunyai kesempatan untuk mengejar karir, sudah gak jaman lagi. Dimana dulu, kalo perempuan yang ngomong hanya dianggap angin lalu, sekrang perempuan kalo ngomong udah didengerin karena sudah ada dasarnya. Pendidikan!

Tapi lagi, bukan berarti perempuan bisa melakukan segalanya.
Kita punya tenaga yang terbatas. Mungkin kalo masalah otak, bisa dikuras habis2an sampai titik penghabisan. Tapi kalo tenaga, somehow kita memang terlahir tidak sekuat laki2.

Kita juga kewajiban yang gak bisa ditinggalkan.
Menyusui, hanya kita yang bisa. Laki2 gak bisa.
Ini juga yang laki2 perlu mengerti, bahwa kita memang butuh maternity leave.
Humm.. gw gak tau pasti itung2an, but sempat ada satu cerita dari temen gw, yang bilang jaman sekarang, walaupun perempuan lagi maternity leave, tapi tetep ngerjain kerjaan di rumah, sambil menyusui anaknya. *talk about it more detail later, setelah gw udah kerja kali ya.. ;p*



Point gak penting:
Duh kalo gw nulis beginian makin susah dapet jodoh gak ya?. Hahaha

Gw sadar betul, di luar sana, mana ada laki2 yang mau punya istri yang lebih dari dia.

Gw juga belum tentu jadi orang yang berhasil banget sih nantinya, sampe2 cowok2 pada jiper, Alhamdulillah boo.. gw mah jadi cewek yang biasa2 aja. Gak pinter2 amat.. Gak cantik2 amat.. Tapi mutlak gak jelek.. haha..

Tapi gw pasti mengejar mimpi gw.

Laki2 yang baca, dan yang tadinya berpikir mau mendekati gw *haha ngarep*
Gw memang mo ngejer apa yang gw mau, tapi gw tau kodrat kok, gw tetep jadi istri yaang baek kok. haha..

Gw jadi inget kata2 temen gw:
"Gw mo masuk NTU!" "Wah.. Ien jangan2 nanti susah kawin lo!"
....
"Kayaknya sih,, pengen sekolah lagi nih.. " "Wahh.. ien makin susah lo nyari suami! Siapa yang mau coba?!"

Bingung ya, untuk masalah ini, laki2 dan perempuan gak bisa disamakan.
Laki2 semakin tinggi sekolah dia, makin tinggi pendidikan dia, ato karir dia, makin gampang dia cari istri.

Tapi kalo perempuan, makin susah dia dapet suami.

Ironis sekali. =)

Bubbly Post

Written on 10/16/2008 05:33:00 PM by Indah Puspita Rani

There's a lot I wanna write, too many, so let me call this post : Bubbly Post, since I got a lot of points I wanna share here.

---------

Kalo lo punya Facebook gw, mungkin sempet ngeliat status gw yang nulisnya I AM IN DANGER.

Well, a bit exaggerate, tapi bener juga sih.

Belakangan gw gak sempet nulis di blog, padahal banyak banget yang mo gw tulis.

Itu smua karena tugas gw yang numpuk!! Capek, plus exam is coming in November which can't be ignored as well.

Tugas? iya Tugas HRM: Human Resource Management.
Di EEE, HRM adalah subject yang terkenal banget. Nanti de lain kali gw ceritain lagi. Agak aneh mungkin anak EEE dapet subject HRM, yang lebih mengarah ke bisnis, dan demandnya gila2an, untungnya sih grup gw gak sampe meeting 12 jam dalam sehari kayak grup lainnya, tapi lumayan capek juga, meeting hampir tiap hari minal 5 jam, mending kalo dalam hari itu kita dapet sesuai deadline yang kita bikin sendiri, kalo stuck? capeknya gak ilang2.

Yah intinya gitu de.

Yang menyakitkan, HRM gw harus di redo. Jadi perjuangan gw kemaren2? yu da da ba bay. I need to think something else. Dan sempet bete juga, karena ternyata ide yang dilontarkan sama gurunya adalah ide gw yang tiba2 diganti, dan baru gw ketahui saat gw di Indo lagi lebaran. Tapi ya namany kerjaan grup, gw harus dukung hasil keputusan bersama.

Selain project HRM. Masih ada profcomm, well this one is quite okay I think.

Exam cukup ngebuat gw pusing. Sekarang gw lagi tahap ngejer, usahin di kampus minimal ampe library tutup jam 11.30pm *tapi kebanyakan sih ampe jam 1an pagi*, soalnya kalo dikamar kayaknya gw udah gak bisa belajar lagi. Entah waktunya terbang kemana2, tau2 abis dan lecture note itu gak maju2 gw bahas.

Sempet nyesel juga gw karen kemaren2 hampir gak pernah masuk lecture. Alasan gw awal2 semester, karena gw gak nafsu sekolah alias somehow ilang motivasi mo kuliah, ditambah lagi projects yang bikin capek. Damn!! What a moron! I shouldn't follow the devil of mine.

Gosip2 bahwa tahun depan bakal sulit nyari kerjaan gara2 Financial Crisis, cukup nganggu sedikit. Wah.. nasib gw tahun depan rada blur.

Perlu gak ya gw ganti plan hidup gw?

Anyway, apapun itu! Gw tetep harus positif!

---------

Ngerasa bersalah karena gw gak bisa nepatin deadline BLOG ACTION DAY, tanggal 15 October 2008 kemaren.

Harusnya gw ikutan itu, nulis tentang POVERTY.

Honestly, gw udah ada rencana nulis tentang LASKAR PELANGI. Iya tentang pelem itu. Yah mungkin agak sedikit melenceng, tapi kata2 bokap gw tentang pelem/buku ini "Ini buku emang inspirational kok!" , setelah gw pikir baek2: iya juga.

Laskar Pelangi itu gambaran anak2 miskin yang punya mimpi.

Kedengarn Klise, tapi gw amaze sama orang2 yang punya mimpi apalagi kalo dia punya banyak keterbatasan.

Anak miskin yang berani bermimpi. Harusnya orang2 yang kayak gitu yang kta bantu.

---------

Gw butuh SENTUHAN COWOK.

Not in dirty way of course. haha

Belakangan gw capek, stress dan takut.

Pada saat2 seperti ini, yang gw butuhin bukan sekedar cerita aja, tapi sentuhan, cuddle.

Jaman dulu waktu kakak gw yang pertama masih di Singapur, yang biasa gw lakuin : TELPON. Ketemuan. Minta traktir hehehe. Biasanya kalo gw duduk sebelah dia itu, badannya kan kayak gorilla tuh, :p gede banget, jadi kalo nyender gitu enak banget, empuk lagi! Sekaligus masalah gw berkurang. Dan cerita ke orang ampe mulut berbusa juga gak begitu perlu.

Gw juga inget pas ESQ, ada session renungan gila2an, yang bikin gw nangis minta ampun. Gw sebenernya gak terlalu suka dipeluk saat itu, apalagi sama cewek :p . Tapi nangis gw gak berenti2, dan setelah sekian lama, orang2 udah pada berenti nangis, berdiri dan siap2 solat magrib, gw masih di pojokan nagis, tapi akhirnya berenti karena kakak yang kedua gw dateng and cuddle me. Masih inget kok gw, rasanya pas tangannya di leher gw, sedikit ngebelai rambut gw, dan nyuruh gw diem, jangan nangis lagi.

Saat2 paling stress gw itu kira2 akhir 2007 dan awal 2008. Dan ya, waktu itu cerita doank gak cukup. And I need to be cuddled. And there he was, cuddle me and melt me in his words.

Waktu gw pusing2nya HRM, ada salah satu orang di grup gw yang hobi megang kepala gw.
Dan gw terdiam. Keenakan. Gak berontak. Ya ini juga yang ngebuat gw ngerasa, gw butuh sentuhan laki2.
Kakak gw juga sering begini, *well faktanya gw anak terakhir, dan yang paling bisa membuat gw diam seperti anak kucing, ya ini, saat kakak2 gw megang kepala gw, ato bukan cuma kakak2 gw, laki2 itu yang pernah dekat juga pernah melakukan hal yang sama, dan somehow memberi rasa tenang*.

Tapi gw tau, kalo gak bisa ya jangan dipaksain.
Mungkin saat ini, gw emang harus cerita ampe mulut berbusa.
Eh tapi gak ada waktu itu begimane..

---------

Belakangan gw suka nonton pelem seri indo yang udah bapuk.

Katro ya gw, baru nonton DUNIA TANPA KOMA.
Yang maen orang2 terkenalnya indo, Dian Sastro, Tora, Fauzi Baadilla, Rahmat Rahardjo, Didi Petet, Cut Mini, Wulan Guritno, Ari Sihasale, Surya Saputra, Luna Maya, dan masih banyak lagi.

Yang mo nonton ada di Youtube, search aja, dunia tanpa koma ep1, ntar langsung keluar part 1 ampe part 6. Ini pelem cuma ada satu season, 14 episode. O ya ceritanya tentang wartawan2 gitu de.

Tapi masalah ceritanya kurang penting dalam hal ini.
Yang gw pikirin.

Ada 1 pesen yang sering banget dilontarkan di pelem ini.
" Ikuti kata hati kamu! "

gw selama ini percaya dengan kata2 itu.

"Ikuti kata hati kamu, tapi otak harus tetap dingin, dan tetap di pake."

Tapi kok, belakangan gw merasa kata2 ini klise sekali.

Bagaimana bisa kita denger hati kita?
Bagaimana bisa kita itu yang sesuai hati nurani?

"Ikuti kata hati kamu!" ini bener2 bukan penghalusan dari "lakuin apa yang lo pengen aja!" ? egois sekali!

---------

Gw bingung,
sebenernya orang yang kita sayang itu seharusnya yang gimana sih?

Orang yang memberikan kita getaran2 yang kita sendiri gak tau apa artinya?
Atau orang yang kerap sekali bertemu dengan kita, berkomunikasi, dan berbagi pikiran?

Atau orang yang selalu memperhatikan kita, walau sebenernya geteran2 itu hambar, tapi kalo perhatiannya ilang, ya kita kehilangan?

Siapa yang seharusnya disayang?

---------

O ya, akhirnya gw berhasil menglist mimpi2 gw.
Mau tau gw akhirnya berhasil mengelistnya dimana?
Di WC, deket MCd kampus pake word di HP gw! hahaha..

Dreams to catch-on yang sebenernya sebagian besar gw pengenin dari kecil : (ato mungkin lebih tepatnya plan ya?)
  • Lulus minimal 2nd lower, hope for more of course.. =)
  • Kerja di perusahaan henpon ato bank (well, langkah pertama IA di Motorola itu sebagai awal, tapi kenyataan bahwa sekarang nyari kerja susah, I will take anything for the first time, dan suatu saat nanti, tunggu aja!)
  • Punya mobil di Singapore, in less than 10 years
  • Sekolah lagi.
  • Punya pacar.
  • Nikah sama orang yang gw sayang bener2 within these 10 years.
  • Punya tempat tinggal sendiri di singapore in less than 13 years.
  • Donor organ.
  • Ikutan kegiatan2 daru UNICEF, UNESCO, dan sejenisnya.
  • Do something big, punya sekolah? Punya yayasan? at least masuk ke dalamnya.
Apalagi ya?
Those 10 for now, I guess!

---------